Hidup Mandiri

Pemuda Deunong Love Valentine's Day Pumping Heart

Rabu, 30 November 2016

STANDAR KURIKULUM TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR'AN ( TPA )

A.    Tinjauan Standar Nasional Pendidikan

1.    Pengertian Standar Nasional Pendidikan
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban  bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mukia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggungjawab dan Undang-Undang No.19 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengatur standar pendidikan di Indonesia.
Sedangkan arti dari standar itu sendiri adalah pernyatan-pernyataan yang luas tentang praktek dan merefleksikan tingkat kualitas yang diinginkan, dan berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia arti dari stadarisasi adalah penyesuaian bentuk (ukuran, kualitas, dsb) dengan pedoman (standar) yang ditetapkan; pembakuan, perlu adanya standarisasi.
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di dalamnya meliputi:
a.    Standar isi.
b.    Standar proses.
c.    Standar kompetensi lulusan.
d.    Standar pendidikan dan tenaga kependidikan.
e.    Standar sarana dan prasarana.
f.    Standar pengelolaan.
g.    Standar pembiayaan.
h.    Standar penilaian.
Sebagimana tercantum dalam Bab X, pasal 36 ayat 3 bahwasanya kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangaka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a.    Peningkatan iman dan takwa.
b.    Peningkatan akhlak mualia.
c.    Peningkatan potensi, keceradsan, dan minat peserta didik.
d.    Keragaman potensi daerah dan lingkungan .
e.    Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
f.    Tuntutan dunia kerja.
g.    Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
h.    Agama.
i.    Dinamika perkembangan global, dan
j.    Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.



2.    Standar Kurikulum Taman Pendidikan al-Qur'an
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 3 berbunyi: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang menigkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa". Atas dasar amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan pembaruan sistem pendidikan nasional adalah " pelakasanaan pendidikan agama dan akhlak mulia".
Dalam hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Pasal 24 ayat 1 menyatakan bahwa: "tujuan pendidikan al-Qur'an adalah meningkatakan kemampuan peserta didik membaca, menulis, memahami, dan mengamalkan kandungan al-Qur'an". Pendidikan al-Qur'an terdiri dari:
a.    Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (TKQ).
b.    Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ).
c.    Ta'limul Qur'an lil Aulad (TQA).
d.    Dan bentuk lain yang sejenis.
Sedangkan kurikulum pendidikan al-Qur'an adalah membaca, menulis, dan menghafal ayat-ayat al-Qur'an, tajwid serta menghafal do'a-do'a utama yang tertulis dalam pasal 24 ayat 5.

B.    Tinjauan  Taman Pendidikan Al-Qur'an

1.    Pengertian Taman Pendidikan Al-Qur'an
Sejak agama Islam masuk ke Indonesia sampai saat ini upaya penyebaran dan penanaman nilai-nilai Islam kepada masyarakat terus dilakukan dan bahkan makin ditingkatkan, baik oleh pemerintah (Departemen Agama) maupun lembaga-lembaga keagamaan mulai dari tingkat pedesaan/ kelurahan sampai di kota-kota besar.
Bentuk kegiatan penyebarluasan dan penanaman nilai-nilai Islam itu sangat bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan/ daerah setempat antara lain melalui sarana:
a.    Pondok Pesantren.
b.    Guru Ngaji (di rumah, langgar, masjid).
c.    Madrasah Diniyah (lembaga non formal).
d.    Taman Kanak-kanak Al-Qur'an dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TKA/ TPQ).
Pendidikan Agama merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki arti penting dalam mensukseskan program pembangunan nasional, oleh sebab itu seluruh aktifitas pemerintah dan masyarakat yang mengarah pada penanaman nilai-nilai rohani/ keagamaan perlu mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak.
Dalam UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 4 ditegaskan bahwa salasatu ciri manusia Indonesia yangmenjadi tujuan Pendidikan Nasional ialah manusia yang beriman dan bertaqwa. Untuk menjadikan manusia Indonesia beriman dan bertaqwa itulah, diperlukan pendidikan keimanan dan ketaqwaan, yang kita kenal dengan pendidikan agama.
Pengertian Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (TKQ) adalah lembaga pendidikan dan pengajaran al-Qur'an bagi anak usia 4 sampai 6 tahun. Sedangkan Taman Pendidikan al-Qur'an (TPQ) adalah lembaga pendidikan dan pengajaran al-Qur'an bagi anak usia 7 sampai 12 tahun. Pengertian pokok antara TKQ dengan TPQ adalah pada usia anak didiknya, sedangkan mengenai dasar, sistem, metode dan materi yang diajarkan secara garis besar sama. Jadi Taman Kanak-kanak Al-Qur'an dan Taman Pendidikan Al-Qur'an adalah pengajian anak-anak dalam bentuk baru dengan metode praktis dibidang pengajaran membaca al-Qur'an yang dikelola secara profesional.

2.    Kurikulum Taman Pendidikan Al-Qur'an
a.    Pengertian Kurikulum
Perkataan kurikulum (curriculum) adalah kata benda yang berasal dari kata "curriculum" (bahasa latin), artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Kata kerjanya adalah "currere" (latin) = "courier" (Prancis) = "to run" (Inggris) = berlari. Perkataan tersebut, yang semula terbatas dalam dunia olahraga, lalu beralih ke dunia pendidikan, yaitu dengan pengertian tradisonal sebagai berikut:
1.    Rencana pelajaran (curriculum is a plan for learning).
2.    Sejumlah courses atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah.
3.    Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah.
4.    Sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah.
Sedangkan dalam pengertian modern, kurikulum diartikan sebagai program pendidikan, yaitu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu. Dalam kaitan ini, pemerintah (Depdikbud) membakukan pengertian kurikulum dengan pengertian yang operasional, dan tidak terlalu luas seperti dalam pengertian modern. Dalam hal ini, pengertian kurikulum yang berlaku dirumuskan sebagai "Garis-garis Besar Program Pengajaran" (GBPP) yang di dalamnya terdiri dari: Komponen Tujuan, Bahan Pengajaran, Program Pengajaran (alokasi waktu), Metode, Sarana dan Sumber, dan Komponen Evaluasi, ditambah dengan panduan operasional lainnya.


b.    Asas Penyusunan Kurikulum
Taman Kanak-kanak Al-Qur'an dan Taman Pendidikan Al-Qur'an adalah lembaga luar sekolah (nonformal) jenis keagamaan. Oleh karena itu muatan pengajarannya lebih menekankan aspek keagamaan Islam dengan mengacu pada sumber utamanya, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah. Hal itu pun dibatasi dan disesuaikan dengan tarap perkembangan anak, yaitu kelompok usia 4-12 tahun (usia TK/ SD/ MI). Dengan demikian, porsi pengajarannya tebatas pada pemberian bekal dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan keagamaan, misalnya pengajaran baca tulis al-Qur'an, pengajaran sholat, hafalan surat dan ayat al-Qur'an serta do'a harian, penanaman aqidah dan akhlaq, dan lainnya.
1.    Asas Agamis
a.    Islam adalah agama dan tatanan hidup yang bersifat universal, berlaku dan patut diberlakukan sepanjang hayat, termasuk dalam kehidupan anak-anak. Oleh karenanya, nilai-nilai dan norma-norma agama ini (Islam) wajib diwariskan oleh umatnya dari zaman ke zaman, termasuk pewarisan kepada generasi pelanjut.
b.    Al-Qur'an sebagai rujukan utama tiap pribadi muslim wajib dibaca, dofahami, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran membaca dan mempedomaninya adalah merupakan konsistensi keberimanannya. Di lain pihak, Allah memberikan jaminan bahwa al-Qur'an pada dasarnya mudah untuk dibaca, dihafal dan dijadikan pengajaran.
c.    Pendidikan anak, termasuk dalam hal pengajaran baca dan tulis al-Qur'an dan sholat bagian dari kewajiban orang tua yang harus dibudidayakan sejak dini dilingkungan keluarganya.
Nabi bersabda:"Didiklah anak-anakmu atas tiga dasar pendidikan (yaitu) mencintai Nabimu, mencintai keluarganya (ahlul bait) dan membaca al-Qur'an".
d.    Agama pun mengajarkan bahwa tingginya kualitas dan derajat manusia terletak pada iman dan ilmu yang dimilikinya, sebagaimana yang difirmankan dalam al-Qur'an:
يرفع الله الذين أمنوا والذين أوتوا العلم دراجات
            Terjemahnya:"jkjlklk"
2.    Asas Filosfis
a.    Pancasila adalah falsafah hidup bangsa yang mengandung nilai-nilai yang tidak bertentangan (dan tidak untuk dipertentangkan) dengan Islam yang bersifat universal. Dengan demikian. Menjadi muslim yang taat, dalam ikatan kebangsaan Indonesia, adalah sekaligus sebagai pancasilais yang baik.
b.    Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dan utama dalam rangkuman pancasila adalah landasan kehidupan berbangsa yang menghedaki agar tiap warganya beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Da pentingnnya pemilikan dan peningkatan iman dan taqwa tersebut tersurat dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
c.    Iman dan Taqwa terhadap Allah Swt mempunyai konsekuensi kewajiban untuk berpegang teguh kepada al-Qur'an, itulah kitab Allah yang tidak mengandung keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk/ pedoman bagi orang-orang yang bertaqwa. Dengan kerangka pemikiran filosofis ini maka pengajaran dan pemasyarakatan al-Qur'an yang diprogramkan dalam kurikulum TKA/ TPQ menjadi cukup beralasan.
3.    Asas Sosio-Kultural
a.    Mayoritas bangsa Indonesia adalah beragama Islam. Kondisi sosio kultural ini menjadi asas tersendiri dalam penyusunan kurikulum TKA/ TPQ. Seiring dengan itu, tradisi mengaji al-Qur'an mempunyai akar budaya yang kuat. Tradisi khataman al-Qur'an untuk kalagan anak-anak misalnya,dengan ragam acara dan upacara yang menyatu dala budaya kedaerahan sejak zaman penjajahan hingga pasca kemerdekaan cukup melembaga. Adalah cukup beralasan apabila kemudian pemerintah sendiri memandang penting adanya upaya peningkatan kemampuan baca tulis al-Qur'an bagi umat Islam, dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari (SKB 2 Menteri/ Medagri dan Menagri No. 128 dan 44 A tanggal 13 Mei 1982).
4.    Asas Psikologis
a.    Tarap perkembangan
b.    kjlkl
c.    klkk
3.    Tujuan Pendidikan dan Pengajaran TPQ
Taman Kanak-kanak al-Qur'an dan Taman Pendidikan al-Qur'an bertujuan menyiapkan anak didiknya agar menjadi generasi muslim Qur'ani, yaitu generasi yang mencintai al-Qur'an sebagai bacaan dan sekaligus pandangan hidupnya sehari-hari.
Untuk mencapai tujuan ini, Taman Kanak-kanak al-Qur'an dan Taman Pendidikan al-Qur'an perlu menentukan target operasionalnya yang meliputi target jangka pendek dan jangka panjang, yaitu sebagai berikut:
A.    Target Jangka Pendek (1-2 Tahun)
1.    Anak dapat membaca al-Qur'an dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid.
2.    Anak dapat melakukan sholat dengan baik.
3.    Anak hafal beberapa surat pendek, ayat pilihan dan do'a sehari-hari.
4.    Anak dapat menulis huruf al-Qur'an (huruf Arab).
B.    Target Jangka Panjang (3-4 Tahun)
1.    Anak dapat menghatamkan al-Qur'an 30 juz.
2.    Anak mampu mempraktekkan lagu-lagu dasar qiro'ah.
3.    Anak mampu menjadikan dirinya sebagai teladan bagi teman segenerasi (berakhlak mulia) .

4.    Program Pengajaran TPQ
Program pengajaran disusun dengan merujuk pada sistem semester dan pengelompokan santri yang terdiri dari kelompok Taman Kanak-kanak al-Qur'an (kelompok umur TK) dan kelompok Taman Pendidikan al-Qur'an (kelompok umur SD/ MI). Tiap kelompok santri terdiri dari dua paket program, yaitu Paket A dan Paket B dengan rentang waktu 1 tahun (12 bulan) atau dua semester (2x6 bulan). Teknik penyususnannya dibuat dalam bentuk matrik dengan struktur sebagai berikut:
Urutan ke bawah (vertikal) adalah berupa topik materi pengajaran terdiri dari materi pokok, materi penunjang dan muatan lokal. Urutan ke samping (horizontal) adalah berupa tahapan target pencapaian tiap topik pengajaran dari bulan ke bulan, mulai bulan Juli (KBM bulan ke 1) dan bulan-bulan berikutnya dalam penanggalan kalender dua semester. Dan struktur program pengajaran di atas merupakan bahan rujukan bagi pengelola unit (kepala TK/ TPQ) serta guru, yaitu:
1.    Sebagai bahan rujukanuntuk menyusun dan menetapkan jadwal pengajaran (jadwal KBM intra kurikuler, ektra kurikuler, evaluasi dan lain-lain).
2.    Sebagai bahan rujukan untuk menyusun persiapan tertulis dalam bentuk program kegiatan mingguan dan kegiatan harian.
Tabel. 2 Contoh Jadwal Program Pengajaran Taman Kanak-kanak Al-Qur'an Paket A (12 Bulan)

No    Paket Pengajaran    Semester I    Semester II    Ket      
I    Materi Pokok    1    2    3    4    5    6    1    2    3    4    5    6          
    1. Bacaan Iqro                                                          
    1) Iqro' Jilid I    x    x    +                                              
    2) Iqro' Jilid II            x    x    +                                      
    3) Iqro' Jilid III                    x    x    +                              
    4) Iqro' Jilid IV                            x    x    +                      
    5) Iqro' Jilid V                                    x    x    +              
    6) Iqro' Jilid VI                                            x    x          
                                                              
    2. Hafalan Bacaan Sholat                                                          
    1) Do'a Sebelum Wudhu    x    +                +                +    +    +          
    2) Do'a sesudah Wudhu    x    +                +                +    +    +          
    3) Do'a Iftitah        x    +            +                +    +    +          
    4) Bacaan al-Fatihah    x    +                +                +    +    +          
    5) Bacaan Ruku'            x    +        +                +    +    +          
    6) Bacaan I'tidal                x    +    +                +    +    +          
    7) Bacaan Sujud            x    +        +                +    +    +          
    8)Bacaan Duduk diantara dua Sujud                    x    +                +    +    +          
    9) Bacaan Tasyahud                        x    +            +    +    +          
    10Bacaan Sesudah Sholat                            x    +    +    +    +    +          
                                                              
    3. Hafalan Surat Pendek                                                          
    1) Surat al-Ikhlas    x    +                +                +    +    +          
    2) Surat al-Kautsar        x    +            +                +    +    +          
    3) Surat al-'Ashar        x    +            +                +    +    +          
    4) Surat al-Nashar            x    +        +                +    +    +          
    5) Surat al-Lahab                x    +    +                +    +    +          
    6) Surat al-Falaq                    x    +                +    +    +          
    7) Surat an-Naas                        x    +            +    +    +          
    8) Surat al-Kafirun                            x    +        +    +    +          
    9) Surat al-Ma'un                                x    +    +    +    +          
                                                              
    4. Latihan Praktek Sholat                                                          
    1) Latihan Wudhu                x    x    x    x    x    x    x    x    x          
    2) Latihan Sholat                x    x    x    x    x    x    x    x    x          
    3) Latihan Adzan                            x    x    x    x    x    x          
                                                              
II    Materi Penunjang                                                          
    1. Do'a & Adab Harian                                                          
    1) Memperoleh Rahmat    x                    +                    +    +          
    2) Mulai Belajar    x    +                +                    +    +          
    3) Kelancaran Bicara        x    +            +                    +    +          
    4) Akhir Pertemuan            x    +        +                    +    +          
    5) Sebelum Makan                x    +    +                    +    +          
    6) Sesudah Makan                    x    +                    +    +          
    7) Berpakaian                        x    +                +    +          
    8) Bercermin                            x    +            +    +          
    9) Masuk WC                                x    +        +    +          
    10) Keluar WC                                    x    +    +    +          
    11) Sebelum Tidur                                        x    +    +          
    12) Sesudah Tidur                                            x    +          
                                                              
    2. Tahsinul Kitabah                                                          
    1) Mencontoh cara penulisan huruf berkarakter tegak, datar, miring, dan lengkun kanan            x    +                                          
    2) Mencontoh cara penulisan huruf  tunggal awal, tengah dan akhir berkarakter tegak, datar, miring, dan lengkun kanan                x    +                                      
    3) Mencontoh cara penulisan huruf tunggal bergerigi dan lengkung kiri                    x    +                                  
    4) Mencontoh cara penulisan huruf tunggal awal, tengah dan akhir bergerigi lengkung kiri                        x    +                              
    5) Mencontoh cara penulisan angka Arab                            x    +                          
    6) Mencontoh cara penulisan huruf sambung berhuruf dua, tiga. empat                            x    +                          
    7) Mencontoh cara penulisan huruf sambung berhuruf lima, enam, tujuh                                x    +                      
    8) Seni mewarnai kaligrafi dan aneka gamar                                    x    x    x    x          
                                                              
III    Muatan Lokal*)
(pilihan bebas/tidak mengikat)                                                          
    1) Bahasa Arab Populer                                                          
    2) Bahasa Inggris Populer                                                          
    3) Kreativitas seni                                                          
    4) Olah raga                                                          
    5) Seni bela diri                                                       

Keterangan:
x : Alokasi waktu pembelajaran
+ : Alokasi waktu pengulangan/ pemantapan
*): Alokasi waktu pembelajaran Muatan Lokal disesuaikam dengan paket yang dipilih serta situasi dan kondisi unit yang bersangkutan.




5.    Metode Pengajaran TPQ
Metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai tujuan, yaitu untuk mennyampaikan sebuah materi kepada anak didik. Ada beberapa cara yang dilakukan dalam menyampaikan baca tulis al-Qur’an, pada dasarnya semua metode yang digunakan adalah agar anak bias menyenangi materi yang diberikan dan agar anak suka belajar.
Di bawah ini akan dikemukan beberapa metode didalam pengebangan pengajaran al-Qur’an, karena sebenarnya banyak sekali metode yang telah berkembang di Indonesia, diantaranya adalah:
1.    Metode al-Barqy
Metode ini disusun oleh Muhadjir Sulthon yang dikembangkan pertama kali di Surabaya. Pengajaran metode ini dikenal dengan pendekatan global atau Gestald psikologi yang bersifat analistik sintetik (SAS).
Yang dimaksud SAS ialah penggunaan struktur kata atau kalimat yang tidak mengikutkan bunyi mati/ sukun, dan menggunakan kata lembaga (struktur). Pada metode ini setelah santri mengenal dan dianggap bias pada pengenalan cara menulis, cara menulis ini diawali dengan meniru tulisan yang masih berupa titik-titik untuk ditebali dengan pensil, setelah dianggap baik dan bisa, baru melanjutkan untuk mengganti di kertas lain.
Metode ini tidak banyak memakan waktu bagi anak karena hanya diperlukan waktu 1 x 8 jam per minggu, sedangkan bagi remaja serta orang dewasa yang baik hanya diperlukan 1x6 jam per minggu.
2.    Metode  Iqra’ Klasikal
Di Indonesia, gerakan pemberantasan buta huruf al-Qur’an yang menggunakan metode iqra’ telah semarak dalam bentuk Taman Kanak-kanak al-Qur’an dan Taman Pendidikan al-Qur’an. Di sekolah dasar di Indonesia juga dikembangkan metode yang sesuai yang dapat mengantarkan murid mampu dalam membaca al-Qur’an dalam waktu yang relative singkat sesuai dengan keterbatasan jam pelajaran yang tersedia.
Metode ini disusun oleh salah satu team tadarrus AMM yaitu KH. As’ad Humam. Metode ini disusun sebagai kelanjutan dari metode sebelumnya, metode pertama kali dikembangkan didaerah Yogyakarta kemudian disebarkan ke daerah lain. Metode ini merupakan ringkasan dari metode iqra’ yang awalnya sampai 6 jilid kemudian diringkas menjadi satu buku yang tebal mencapai 61 halaman. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik cepat bisa membaca al-Qur’an. Selain itu untuk menjawab tuntutan bagi anak atau orang dewasa yang akan beljar al-Qur’an tetapi mempunyai waktu yang terbatas.
Pada metode ini pengenalan huruf hijaiyah awal hingga akhir dengan menggunakan harakat dan untuk bacaan tajwid, tidak langsung dikenalkan macam-macam bacaan tetapi diberikan tuntunan membacanya, setelah menguasai semuanya akan diberikan materi tajwid.
3.    Metode al-Baghdadi
Metode ini sering juga disebut dengan metode kuno atau juz ‘amma. Cara penyampaiannya dengan membaca dan menghafal huruf-huruf hijaiyah, baru menginjak pada tanda-tanda fathah, kasrah, dhommah. Pada metode ini anak bisa mengetahui langsung nama-nama huruf hijaiyah tanpa harakat dan hafal secara berurutan.
4.    Metode Qira’ati
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh KH. Dachlan Salim Zarkasy dari Semarang. Di dalam metode ini santri diajarkan huruf-huruf hijaiyah yang sudah berharakat secara langsung tanpa mengeja.
Cara yang digunakan dalam materi ini hamper sama dengan metode iqra’ tetapi disertai dengan ketukan yaitu untuk bacaan pendek satu ketukan, sedangkan untuk bacaan mad dan idghom dua ketukan, dan mad wajib lima ketukan.
Beberapa metode ini telah berkembang di masyarakat Indonesia sampai sekarang. Metode ini yang dijadikan rujukan untuk belajar membaca al-Qur’an di seluruh Indonesia, agar anak secepatnya mampu dan menguasai dan membaca al-Qur’an serta mampu menulis huruf-huruf al-Qur’an dengan baik.

C.    Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan

Menawarkan pendidikan yang bermutu tinggi adalah tujuan setiap lembaga pendidikan, begitu juga keinginan dari kepala sekolah sebagai orang yang sangat bertanggungjawab dilingkungan pendidikan, dalam hal ini ada beberapa upaya yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan maupun seorang kepala sekolah sebagai orang yang bertanggungjawab di lembaga yang dipimpinnya, yaitu :
1.    Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Oleh Lembaga Pendidikan 
Tuntutan akan lulusan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang membuka peluang lembaga pendidikan (termasuk lembaga pendidikan asing) membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan di pasar kerja akan semakin berat. Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan untuk mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan. Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa  yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan proses belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut.
Untuk bisa menghasilkan mutu pendidikan yang baik terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan, yaitu sebagai: 
a.    Menciptakan situasi “menang-menang”  (win-win solution) dan bukan situasi “kalah-menang” diantara pihak yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut.
b.    Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pendidikan harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
c.    Setiap pimpinan harus berorientasi  pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan manajemen mutu terpadu  dalam pendidikan bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
d.    Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu. Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu sesuai yang diharapkan. 
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya, yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut. Para pelanggan layanan pendidikan terdiri dari berbagai unsur paling tidak empat kelompok. Mereka itu adalah  pertama yang belajar, bisa merupakan mahasiswa/ pelajar/ murid/ peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer (primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut.   Kedua, para klien terkait dengan orang yang mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder  (secondary  external customers). Pelanggan lainnya yang  ketiga bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary  external customers).
Selain itu, yang keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal  dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru/ dosen/ tutor dan tenaga administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers).Walaupun para guru/ dosen/ tutor dan tenaga administrasi, serta pimpinan lembaga pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas dari suatu lembaga pendidikan mereka akan diuntungkan, baik kebanggaan maupun finansial. Seperti  disebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan/harapan pelanggan, maka layanan pendidikan suatu lembaga haruslah memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan pendidikan. Potensi perkembangan, dan keaktifan murid tentu saja merupakan yang paling utama dalam peningkatan mutu pendidikan. Perkembangan fisik yang baik, baik jasmani maupun otak, menentukan kemajuannya. Demikian pula dengan lainnya, misalnya bakat, perkembangan mental, emosional, pibadi, sosial, sikap mental, nilai-nilai, minat, pengertian, umur, dan kesehatan; kesemuanya akan mempengaruhi hasil belajar dan mutu seseorang. Untuk itu, maka  perhatian terhadap paserta didik menjadi sangat penting.


2.    Upaya Kepala TPQ sebagai Administrator Pendidikan
Kepala TPQ merupakan personel sekolah yang bertanggunjawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatan di TPQ. Ia mempunyai wewenang dan tanggungjawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan TPQ yang dipimpinnya. Kepala TPQ tidak hanya bertanggungjawab atas kelancaran jalannya TPQ secara teknis akademis saja, akan tetapi segala kegiatan, keadaan lingkungan TPQ dengan kondisi dan situasinya serta hubungan dengan masayarakat sekitarnya merupakan tanggungjawabnya pula. Inisiatif dan kreatif yang mengarah kepada perkembangan dan kemajuan TPQ adalah tugas dan tanggungjawab kepala TPQ. Namun demikian, dalam usaha memajukan TPQ dan menanggulangi kesulitan yang dialami TPQ baik yang berupa atau bersifat material seperti perbaikan gedung, penambahan ruang, penambahan perlengkapan, dan sebagainya maupun yang bersangkutan dengan pendidikan anak-anak, kepala TPQ tidak dapat bekerja sendiri. Kepala TPQ harus bekerja sama dengan para guru yang dipimpinnya, dengan orang tua murid serta pihak pemerintah setempat. Kegiatan-kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya adalah sebagai berikut yang juga merupakan upaya dari kepala TPQ itu sendiri dalam meningkatkan mutu pendidikan dilingkungannya secara maksimal:
1.    Kegiatan mengatur proses belajar mengajar.
2.    Kegiatan mengatur kesiswaan.
3.    Kegiatan mengatur personalia.
4.    Kegiatan mengatur perelatan pengajaran.
5.    Kegiatan mengatur dan memelihara gedung dan perlengkapan TPQ.
6.    Kegiatan mengatur keuangan.
7.    Kegiatan mengatur hubungan TPQ dengan masyarakat.
Fungsi pimpinan TPQ dalam kegiatan yang dipimpinnya berjalan melalui tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
1.    Perencanaan.
2.    Pengorganisasian.
3.    Pengarahan.
4.    Pengkoordinasikan.
5.    Pengawasan.
Tugas lain dari seorang kepala TPQ adalah sebagai supervisor dalam masalah pembinaan kurikulum TPQ. Dalam pembinaan kurikulum tugas kepala TPQ yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Kepala TPQ hendaknya dapat membimbing para guru untuk dapat meneliti dan memilih bahan-bahan mana yang baik yang sesuai dengan perkembangan anak dan tuntutan kehidupan dalam masyarakat.
b.    Membimbing dan mengawasi guru-guru agar mereka pandau memilih metode-metode mengajar yang baik, dan melaksanakan metode itu sesuai dengan bahan pelajaran dan kemampuan anak.
c.    Menyelenggarakan rapat-rapat dewan guru secara insidentil maupun priodik, yang khusus untuk membicarakan kurikulum, metode mengajar, dan sebagainya.
d.    Mengadakan kunjungan kelas yang teratur: mengunjungi guru sedang mengajar untuk meneliti bagaimana metode mengajarnya, kemudian mengadakan diskusi dengan guru yang bersangkutan.
e.    Mengadakan saling kunjungan kelas antara guru.
f.    Setiap permualaan tahun ajaran guru diwajibkan menyusun suatu silabus mata pelajaran yang akan diajarkan, dengan pedoman pada rencana pelajaran/ kurikulum yang berlaku di TPQ itu.
g.    Setiap akhir tahun ajaran masing-masing guru mengadakan penilaian cara dan hasil kerjanya dengan meneliti kembali hal-hal yang pernah diajarkan, selanjutnya mengadakan perbaikan-perbaikan dalam tahunajaran berikutnya.
h.    Setiap akhir tahun ajaran mengadaka penelitian bersama guru-guru mengenai situasi dan kondisi TPQ pada umumnya dan usaha memperbaikinya.
Dalam memimpin TPQ, demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan kepala TPQ pun harus memiliki karateristik sebagai berikut:
a.    Mempunyai jiwa kepemimpinan dan mampu memimpin TPQ.
b.    Memiliki kemampuan memecahkan masalah.
c.    Mempunyai ketrampilan social.
d.    Profesional dan kompeten dalam bidang tugasnya.
Dalam menjalankan tugasnya, kepala TPQ mempunyai peran ganda sebagai administrator, sebagai pemimpin, sebagai supevisor pendidikan. Untuk mendayagunakan sumber daya TPQ, maka dibutuhkan ketrampilan manajerial. Terdapat tiga bidang ketrampilan manajerial yang perlu dikuasai oleh kepala TPQ yaitu, ketrampilan konseptual (conceptual skill), ketrampilan hubungan manusia (human skill), ketrampilan teknik (technical skill). Ketiga ketrampilan manajerial tersebut diperlukan untuk melaksanakan tugas manajerial secara efektif, meskipun penerapan masing-masing ketrampilan tersebut tergantung pada tingkatan manajer dalam organisasi.
3.    Upaya Pengembangan Kurikulum TPQ
a.    Konsep Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum merupakan bagian yang penting dari program pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai bukanlah semata-mata memproduksi bahan pelajaran melainkan lebih untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Konsep pengembangan kurikulum dapat diartikan dari dua jenis proses, yakni pengembangan dalam arti perekayasaan (engineering) dan pengembangan dalam arti konstruksi. Proses pengembangan dalam arti pertama, terdiri dari empat tahap ialah menentukan fondasi yakni dasar-dasar yang diperlukan untuk mengemabangkan kurikulum; konstruksi ialah mengembalikan model kurikulum yang diharapkan berdasarkan fondasi tersebut; implementasi ialah pelaksanaan kurikulum; dan evaluasi ialah menilai kurikulum secara komprehensif dan sistemik.
Proses pengembangan kurikulum dalam arti yang kedua, yakni proses pengembangan secara mikro, yang pada garis besarnya melalui proses 4 kegiatan, yakni merancang tujuan, merumuskan materi, menetapkan metode, dan merancang evaluasi
Pengembangan kurikulum berlandaskan manajemen, berarti melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum berdasarkan pola pikir manajemen, atau berdasarkan proses manajemen dengan fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari: Pertama, Perencanaan kurikulum, yang dirancang berdasarkan analisis kebutuhan, menggunakan model tertentu dan mengacu pada suatu desain kurikulum yang efektif. Kedua, Pengorganisasian kurikulum yang ditata baik secara struktural maupun secara fungsional. Ketiga, Implementasi yakni pelaksanaan kurikulum di lapangan. Keempat, Ketenagaan dalam pengembangan kurikulum. Kelima, Kontrol kurikulum yang mencakup evaluasi kurikulum. Keenam, Mekanisme pengembangan kurikulum secara menyeluruh.
b.    Asas-asas Pengembangan Kurikulum TPQ
1)    Asas Orientasi dan Konsistensi pada tujuan
Tujuan adalah komponen pertama dalam kurikulum. Keharusan orientasi pada tujuan serta konsistensi dalam mencapainya adalah ibarat orang yang mau melakukan peralanan, yaitu pentingnya menetapkan tujuan terlebih dahulu. Perjalana tapatjuan atau tanpa tujuan yang jelas adalah perjalanan sia-sia atau perjalanan tak menentu. Tujuan yang digariskan dalam kurikulum TK/ TPQ secara sturuktural bertitik tolak dari tujuan  yag sifatnya global (garis besar) yaitu tuuan pendidikan nasional, lalu diciutkan ke tingkat tujuan kelembagaan/ institusional, tujuan pembelajaran umum (TPU). Selanjutnya guru harus mengembangkannyake tingkat tujuan yang lebih spesifik yaitu tujuan pembelajaran khusus (TBK).
2)    Asas Kesinambungan
Program pengajaran dalam TK/ TPQ disusun dalam bentuk paket. Paket pengajaran tersebut secara umum dikelompokkan ke dalam dua paket, yaitu paket A dan paket B. Dan tiap paket terdiri dari tiga kelompok materi, yaitu materi pokok, materi penunjang dan muatan lokal. Hal ini menjadi acuan dasar dalam mengembangkan asas kesinambungan. Kesinambungan adalah suatu proses berkelanjutan dan satu tahap pencapaian pengalaman belajar ke tahap berikutnya, baik klasikal maupun secara individual yang dipandu oleh guru secara insentif.
3)    Asas Keterpaduan
Asas keterpaduan ini menyangkut dua hal. Pertama keterpaduan dalam peyelenggaraan pendidikan dan pengajara anak, yaitu keterpaduan antar kegiatan di sekolah, di rumah, di lingkungan masyarakat. Kedua, keterpaduan dalam upaya mencapai tiga aspek pendidikan dalam individu anak, yaitu keterpaduan antara aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap (afektif), dan aspek ketrampilan (psikomotor). Untuk mewujudkan keterpaduan diantara tiga ligkungan pendidikan (di sekolah, rumah, masyarakat) harus dikondisikan dengan  cara menjalin hubungan kerjasama yang baik diantara figur-figur yang berperan di dalamnya, yaitu kepala TK/TPQ, guru, pihak orang tua dan masyarakat agar dapat memberikan pengawasan dan bimbingan khusus di rumahnya masing-masing, terutama menyangkut aspek sikap dan pengembangan prilaku anak, termasuk segi pembiasaan sholat, mengaji al-Qur'an, dan pembiasaan do'a sehari-hari.
4)    Asas Keluwesan
Keluwesan adalah termasuk prinsip yag logis dalam mengembangkan kurikulum karena kurikulum adalah merupakan program pengajaran dalam bentuk garis-garis besar. Asas keluwesan ini memungkikan adanya penguanan , penambahan atau penyesuaian tertentu dari apa yang tersurat dalam kurikulum mengingat kondisi objektif di lingkungan TK/TPQ yang bersangkutan. Yang penting asas keluwesan tersebut tidaklah menyimpang  dari tujuan dan pola-pola umum yang telah digariskan. Untuk itu guru harus memahami keseluruhan kurikulum yang berlaku dan menyesuaikannya dengan tingkat perkembangan yang ia hadapi di lingkungan unit kerjanya. 
5)    Asas Efisiensi dan Efektivitas
Efisiensi adalah pendayagunaan segala sarana yang tersedia, termasuk penggunaan tenaga, waktu, dan dana secara hemat dan tepat guna. Dengan begitu seluruh program kegiatan belajar diharapkan dapat berjalan dengan tertib dan berhasil guna (efektif) dengan bukti keberhasilan yang bermutu. Efisiensi berkaitan dengan proses belajar mengajar sedangkan efektivitas berkaitan dengan hasil belajar (out put) yang mau dicapai.


c.    Mekanisme Pengembangan Kurikulum
Tahap 1: Studi kelayakan dan kebutuhan
Pengembangan kurikulum melekukan kegiatan analisis kebutuhan program dan merumuskan dasar-dasar pertimbangan bagi pengembangan kurikulum tersebut. Untuk itu si pengembang perlu melakukan studi dokumentasi dan/ atau studi lapangan.
Tahap 2: Penyusunan konsep awal perencanaan kurikulum
Konsep awal ini dirumuskan berdasarkan rumusan kemampuan, selanjutnya merumuskan tujuan, isi, strategi pembelajaran sesuai dengan pola kurikulum sistemik.
Tahap 3: Pengembangan rencana untuk melaksanakan kurikulum
Penyusunan rencana ini mencakup penyusunan silabus, pengembangan bahan pelajaran dan sumber-sumber material lainnya.
Tahap 4: Pelaksanaan uji coba kurikulum di lapangan
Pengujian kurikulum di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keandalannya, kemungkinan pelaksanaan dan keberhasilannya, hambatan dan masalah-masalah yang timbul dan faktor-faktor pendukung yang tersedia, dan lain-lain yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum.
Tahap 5: Pelaksanaan kurikulum
Ada 2 kegiatan yang perlu dilakukan, ialah:
1.    Kegiatan desiminasi, yakni pelaksanaan kurikulum dalam lingkup sample yang lebih luas.
2.    Pelaksanaan kurikulum secara menyeluruh yang mencakup semua satuan pendidikan pada jenjang yang sama.
Tahap 6: Pelakasanaan penilaian dan pemantauan kurikulum
Selama pelaksanaan kurikulum perlu dilakukan penilaian dan pemantauan yang berkenaan dengan desain kurikulum dan hasil pelaksanaan kurikulum serta dampaknya.
Tahap 7: Pelaksanaan perbaikan dan penyesuaian
Berdasarkan penilaian dan pemantauan kurikulum diperoleh data dan informasi yang akurat, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan pada kurikulum tersebut bila diperlukan, atau melakukan penyesuaian kurikulum dengan keadaan. Perbaikan dilakukan terhadap beberapa aspek dalam kurikulum tersebut.

Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah Saw

  1. A.    Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah Saw
Pendidikan islam yang dijalankan Rasulullah saw melalui dua periode, periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah sebagai fase awal pembinaan pendidikan islam dan berpusat di Makkah, sedangkan periode Madinah sebagai fase lanjutan pembinaan pendidikan islam sekaligus sebagai pusat kegiatannya.
Sebelum Nabi Muhammad saw memulai tugasnya sebagai rasul, yaitu melaksanaka pendidikn islam terhadap umatnya, Allah telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, melalui pengalaman, pngenalan serta perannya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
Pendidikan Islam berawal setelah Nabi Muhammad saw diutus menjadi rasul dan diperintahkan menyampaikan ajaran-ajaran agama islam kepada umatnya dan beliaulah menjadi pendidik pertama bagi umat islam. Ditandai dengan turunnya firman Allah QS Al-Alaq ayat 1-5
إقرأ باسم ربك الذي خلق.خلق الانسان من علق.إقرأ وربك الاكرم.الذى علّم بالقلم.علّم الانسان ما لم يعلم. (العلق 1-5)
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.” (QS.Al-Alaq : 1-5)
Kemudian disusul dengan wahyu yang kedua QS Al-Mudatsir ayat 1-7.
ياايهاالمدّثر. قم فانذر. وربّك فكبّر.وثيابك فطهّر. والرّجزفاهجر.ولا تمنن تشتكثر.ولربّك فاصبر.(المدثر 1-7)
“Hai orang yang berselimut !. Bangunlah dan berilah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu. Dan sucikanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah segala yang keji. Dalam mmberi janganlah mengharapkan imbalan yang lebih banyak. Tetapi, demi Tuhanmu sabar dan tabahlah. ‘ (QS Al-Mudatsir ayat 1-7)

Adapun Pendidikan Islam pada Masa Rasulullah Saw, Terbagi menjadi beberapa periode, yaitu :
  1. a.      Pendidikan Islam di Makkah
Di Makkah pendidikan islam diawali dengan cara sembunyi-sembunyi dilingkungan keluarga dan sahabat-sahabat dekat beliau. Dakwah islam secara sembunyi-sembuyi selama 3 tahun ini menghasilkan 39 orang penduduk Makkah yang berikrar sebagai muslim. Kemudian dikuatkan dengan perintah untuk menyeru kepada Islam secara terang-terangan surat Al-Hijr ayat 94 :
فاصدع بما تؤمرواعرض عن المشركين
“Maka sampaikanlah olehmu (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS.Al-Hijr : 94)
Ayat-ayat tersebut memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad saw tentang apa yang harus dilakukan baik terhadap dirinya maupun terhadap umatnya. Ayat-ayat itulah yang merupakan petunjuk awal agar Rasulullah saw memberikan peringatan/pengajaran kepada umatnya.
            Pendidikan islam di Makkah berlangsung selama 13 tahun. Pada masa ini merupakan upaya pembebasan manusia dari belenggu aqidah sesat yang dianut oleh kelompok Quraisy, dengan tujuan untuk membina pribadi muslim agar menjadi kader yang berjiwa kuat dan dipersiapkan menjadi masyarakat Islam, mubaliq dan pendidik yang baik yaitu dengan menanamkan nilai-nilai keimanan berdasarkan tauhid.
  1. b.      Pendidikan Islam di Madinah
            Periode pendidikan Rasulullah di Madinah selama 10 tahun adalah kelanjutan dari pendidikan yang telah diterima pada periode Makkah. Tujuan dan materi pendidikan islam selin diarahkan untuk membentuk pribadi kader islam, tetapi untuk membina aspek-aspek kemanusiaan sebagai hamba Allah untuk mengelola dan menjaga kesejahteraan alam semesta. Untuk itu umat islam dibekali dengan pendidikan tauhid, akhlak, syariah, kehidupan social kemasyarakatan, ekonomi dan bahkan kehidupan bernegara.


  1. B.     Pendidikan Islam Masa Kini
Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan suatu bangsa yang akan menentukan maju mundur suatu bangsa. Tolak ukur kemajuan memang terletak pada pendidikan yang diselenggarakan. Oleh karenanya faktor guru, kurikulum, sarana dan prasarana pendukung pendidikan sangat fital diperhatikan. Indonesia mulai menampakkan kemajuan dalam sektor pendidikan. Berbagai ilmu pengetahuan mulai ada dari berbagai  negara dan instansi lembaga pendidikan. Para ulama dan pemuka agama yang ada, mendirikan berbagai lembaga pendidikan, seperti munculnya pesantren, surau, dan sekolah dengan berbagai latar keilmuan. Untuk memajukan pendidikan tidak hanya dengan merubah kurikulum dan melengkapi sarana dan prasarana saja, melainkan juga memperhatikan pembangunan SDM yang akan mengemban pendidikan tersebut.  Oleh karena itu untuk mencapai pendidikan yang lebih baik dimasa datang, yang menjadi prioritas utama adalah pembenahan SDM nya, terurama menumbuhkan kesadaran bagi setiap elemen masyarakat dan pemegang kekuasaan untuk membenah diri. Terutama berbenah dari segi ketaatan pada azas dan aturan. Taat azas berarti memberikan keteladaan bagi masyarakat pada umumnya, sehingga pendidikan sekarang menjadi cermin perbandingan untuk kebijakan pembangunan pendidikan masa depan. Pendidikan bukan hal yang acak-acakan dan seharusnya bukan sebagai ajang uji coba secara terus menerus, dia harus terencana dengan baik. Rasulullah telah mengisyaratkan bahwa,”kalau ingin menguasai kehidupan didunia haruslah dengan ilmu, kalau ingin menguasai kehidupan akhirat harus pula dengan ilmu, dan kalau ingin menguasai keduanya (dunia dan akhirat) haruslah dengan ilmu”.
  1. C.    Pendidikan Islam Masa Depan
Masa depan merupakan zaman yang akan datang atau belum terjadi. Masa depan pendidikan perlu diperhatikan oleh para pendidik. Dimasa yang akan datang, telah terpampang cita-cita dan harapan dari suatu pendidikan. Cita-cita dan harapan pendidikan dapat terwujud jika sudah ada gambaran yang ada dimasa akan datang.
            Manajemen pendidikan dimasa depan meupakan manajemen pendidikan yang dirancang atau disusun untuk menghadapi tantangan masa depan. Manajemen pendidikan mempunyai fungsi yang harus dipahami oleh para manajer pendidikan masa depan. Fungsi tersebut antara lain perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengkoordinasian.
            Perencanaan pendidikan merupakan suatu proses mempersiapkan serangkaian keputusan untuk mengambil tindakan pendidikan dimasa depan yang diarahkan kepada tercapainya tujuan-tujuan dengan sarana yang optimal. Pengorganisasian pendidikan merupakan usaha bersama oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, dengan mendayagunakan sumber-sumber yang ada agar dicapai hasil yang efektif dan efisien. Pengarahan pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pimpinan pendidikan untuk memberikan penjelasan pendidikan, serta bimbingan kepada para orang-orang yang ada dibawahnya sebelumnya dan selama melaksanakan tugas. Pengkoordinasian dalam pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan pimpinan untuk mengatur, menyatukan, menserasikan mengintegrasikan semua kegiatan yang dilakukan bawahannya dalam dunia pendidikan.
Sekian Wassalam...

Kamis, 08 September 2016

Sistem Informasi TKA-TPA/ BADKO TKA-TPA GAMPONG DEUNONG


TPA TGK MEURAH
 
Taman Pendidikan Al Qur’an atau yang disingkat TPA merupakan salah satu wadah untuk mengajarkan membaca dan menulis Al Qur’an kepada anak-anak sejak dalam usia dini. Disamping itu juga TPA berperan penting dalam membentuk akhlak islamiah serta membentuk kepribadian anak. Dengan demikian peran TPA sangatlah penting. Dengan adanya TPA dapat melengkapi pendidikan yang diperoleh anak didik dibangku sekolah (pendidikan formal).

Berdasarkan laporan Bidang Humas Informasi diketahui bahwa di Gampong Deunong sendiri sekitar 40-an Unit TPA dengan beragam aktivitasnya dan beragam keberadaanya. Kondisi masing-masing unit inipun berbeda antara satu dengan yang lainnya. Baik dari sisi administrasinya, sarana prasarana pendukung, atau bahkan jumlah pengajar yang ada. Sehingga pengurus tak henti-hentinya menagajak seluruh komponen masyarakat dan lembaga ditingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten.untuk bersama mendukung kegiatan TPA tersebut.

Di bidang Litbang Data, persoalan yang menjadi tantangan di BADKO TKA-TPA Gampong Deunong adalah belum cepatnya penyajian informasi data unit TKA-TPA. Karena selama ini masih dalam bentuk hardfile yang tidak praktis serta sering tidak terawat dan hilang. Padahal informasi tersebut sangat dibutuhkan untuk tindakan Supervisi.

Supervisi adalah keseluruhan usaha yang bersifat pembinaan bagi seluruh proses pengelolaan di TKA-TPA untu mengembangkan situasi dan kondisi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang lebih baik. Supervisi yang dimaksudkan disini bukan inspeksi yang merasa serba tahu (superior) terhadap yang dianggap belum tahu, namun yang dimaksud adalah supervisi dalam bentuk silaturahim dan sekaligus memberikan bimbingan yang mengacu pada pembinaan untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar secara optimal.

Dengan adanya sistem informasi data TKA-TPA Gampong Deunong yang dapat diaplikasikan diharapkan menjadi sarana unyuk rekam data TKA-TPA Gampong Deunong. Dengan mengakses data-data yang dibutuhkan oleh pengurus maupun pihak-pihak terkait, sistem informasi data TKA-TPA ini dapat memenuhi kebutuhan informasi yang lebih berkualitas.



PENGEMBANGAN TAMAN PENDIDIKAN AL’QURAN TPA TGK MEURAH SEBAGAI PENDIDIKAN BERBASIS KEAGAMAAN

A. Konsep dan latar belakang pengembangan TPA Tgk. Meurah.
Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh dan untuk masyarakat. ( UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS )
Masyarakat melahirkan beberapa lembaga pendidikan nonformal sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan . Masyarakat merupakan kumpulan individu dan kelompok yang terikat oleh kesatuan bangsa, negara, kebudayaan, dan agama. Setiap masyarakat, memiliki cita-cita yang diwujudkan melalui peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu. Islam tidak membebaskan manusia dari tanggungjawabnya sebagai anggota masyarakat, dia merupakan bagian yang integral sehingga harus tunduk pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Begitu juga dengan tanggungjawabnya dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan.
Adanya tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan, maka masyarakat akan menyelanggarakan kegiatan pendidikan yang dikategorikan sebagai lembaga pendidikan nonformal. Sebagai lembaga pendidikan non formal, masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, tetapi tidak mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Meskipun demikian, lembaga-lembaga tersebut juga memerlukan pengelolaan yang profesional dalam suatu organisasi dengan manajemen yang baik.
Menurut an-Nahlawi, tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan tersebut hendaknya melakukan beberapa hal, yaitu: pertama, menyadari bahwa Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh kebaikan dan pelarang kemungkaran (Qs. Ali Imran/3: 104); kedua, dalam masyarakat Islam seluruh anak-anak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya sehingga di antara saling perhatian dalam mendidik anak-anak yang ada di lingkungan mereka sebagaimana mereka mendidik anak sendiri; ketiga, jika ada orang yang berbuat jahat, maka masyarakat turut menghadapinya dengan menegakkan hukum yang berlaku, termasuk adanya ancaman, hukuman, dan kekerasan lain dengan cara yang terdidik; keempat, masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikoitan, atau pemutusan hubungan kemasyarakatan sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi; dan kelima, pendidikan kemasyarakatan dapat dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena masyarakat muslim adalah masyarakat yang padu.
Berpijak dari tanggung jawab tersebut, maka lahirlah berbagai bentuk pendidikan kemasyarakatan, seperti masjid, surau, TPA, wirid remaja, kursus-kursus keislaman, pembinaan rohani, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memberikan kontribusi dalam pendidikan yang ada di sekitarnya.
TPA Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA)Tgk. Meurah merupakan sebuah lembaga pendidikan luar sekolah yang menitikberatkan pengajaran pada pembelajaran membaca Al Qur’an dengan muatan tambahan yang berorientasi pada pembentukan akhlak dan kepribadian islamiah.
B. Manfaat TPA Tgk. Meurah di masyarakat.
1. Menciptakan generasi islam yang taat beribadah dan berakhlak mulia.
2. Memakmurkan masjid.
3. Menanankan nilai- nilai budi pekerti yang baik dengan meneladani Rasulullah dan para sahabatnya.
4. Membentuk masyarakat yang Qurani.
5. Menanamkan nilai moral dan budi pekerti pada generasi muda.
6. Memperdalam pengetahuan keagamaan di masyarakat.
7. Membantu pemerintah dalam mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat.
C. Langkah- langkah Pengembangan Taman pendididkan Al’Quran Tgk. Meurah ( TPA ) sebagai Pendidikan Berbasis Keagamaan
1. Menetapkan tujuan dan fungsi.
a. Tujuan
Secara umum tujuan Tempat Pendidikan Al Qur’an Tgk. Meurah adalah untuk menciptakan generasi muda yang beriman , berakhlak mulia, cerdas dan mandiri.
Secara khusus tujuan Tempat Pendidikan Al Qur’an TPA Tgk. Meurah adalah untuk mengembangkan potensi yang berkaitan dengan:
1. Memberikan wadah pendidikan yang berbasis Islam, khususnya pendidikan Al Qur’an untuk warga setempat.
2. Berusaha untuk meningkatkan dan memberikan pendidikan kepada masyarakat umum untuk dapat memperoleh pendidikan agama yang layak.
3. Mengajarkan cara membaca Al Qur’an yang benar sesuai dengan tajwid kepada para santri.
4. Diharapkan santri dapat menghafal dan mengamalkan sejumlah ayat-ayat pilihan, surat- surat pendek dan do’a harian.
5. Para santri diajarkan gerakan- gerakan wudhu serta sholat, sehingga anak- anak dapat melaksanakan wudhu dan sholat dengan baik dan benar.
6. Menanankan nilai- nilai budi pekerti yang baik dengan meneladani Rasulullah dan para sahabatnya.
b. Fungsi
Sedangkan fungsi dari TPA  Tgk. Meurah antara lain:
1. Mengembangkan seluruh potensi anak sejak usia dini dalam rangka mewujudkan pendidikan anak seutuhnya sehingga nantinya terbangun generasi ideal masa depan yang beriman, berakhlak mulia, cerdas dan mandiri.
2. Melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta mengembangkan life skills.
2. Menetapkan sasaran.
Sasaran dari pengembangan TPA Tgk. Meurah adalah anak – anak usia dini sampai remaja di lingkungan masyarakat sekitar, umumnya usia 4 – 15 tahun.
3. Menetapkan kriteteria kegiatan.
a Kegiatan yang bersifat edukatif.
b Kegiatan dengan penekanan pada pengetahuan agama (baca tulis Al Qur’an, Keimanan, Akhlak, dan lain-lain).
c Kegiatan pengembangan potensi anak.
4. Membuat proposal kegiatan.
a. Tahap Perencanaan
1) Menampung aspirasi warga sekitar secara lisan.
2) Mempersiapkan jadwal tahapan pendirian TPA.
3) Melakukan komunikasi dengan Konsultan Pendidikan.
4) Melakukan pembekalan kepada Panitia tentang mekanisme pendirian dan pelaksanaan TPA.
c. Pelaksanaan
1) Rapat pembentukan panitia pendirian TPA berikut susunan kepengurusan TPA.
2) Trainning pembinaan untuk panitia pendirian TPA oleh Konselor Pendidikan.
3) Minta ijin Ketua RT setempat dan manajemen perusahaan.
4) Membuat dan menyebarkan angket ke warga dalam rangka. mengetahui animo masyarakat dan persiapan penyusunan kurikulum.
5) Menyusun dan mengajukan Proposal perijinan ke aparat pemerintah dan perusahaan.
6) Persiapan tempat kegiatan TPA dan keperluan administratif (Logo TPA, Kop Surat, Stempel, Papan Nama, Spanduk, dan lain-lain).
7) Sosialisasi secara terbuka.
8) Menyusun dan menyebarkan formulir pendaftaran.
9) Penyusunan kurikulum kegiatan TPA beserta silabus.
10) Persiapan dan seleksi tenaga pendidik.
11) Persiapan modul dan buku penunjang.
12) Tentir pendidik oleh konselor.
13) Seleksi pendaftaran calon santri.
14) Pembukaan dan pelaksanaan kegiatan TPA.
5. Rancangan Pengontrolan dan Evaluasi
Dalam pelaksanaan kegiatan TPA Tgk. Meurah, perlu adanya pengontrolan, pengawasan dan evaluasi yang dilakukan oleh pengurus, masyarakat, dan konselor sehingga diharapkan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
a. Pengontrolan.
1) Kegiatan.
a). Berjalannya kurikulum dan silabus sesuai dengan tujuan.
b). Berjalannya agenda kegiatan santri.
c). Pengotrolan terhadap kehadiran tenaga pendidik maupun santri.
d). FOS (Forum Orangtua Santri).
2) Administrasi.
a). Buku Besar kegiatan TPA.
b). Dokumentasi kegiatan TPA.
3) Keuangan.
a). Sistem pencatatan keuangan.
b). Pengontrolan dilakukan oleh Pengurus dan DKM, Masyarakat (sistem secara transparan)
b. Evaluasi
Evaluasi kegiatan TPA Tgk. Meurah dilakukan secara bertahap dan berkala. Hasil kegiatan akan diukur dengan indikator keberhasilan yang telah ditentukan sebelumnya sehingga dapat digunakan sebagai titik tolak dalam pengembangan selanjutnya. Sedangkan evaluasi keuangan dilakukan oleh bendahara dan pengurus untuk kemudian dipertanggungjawabkan kepada pihak yang terkait.
6. Membuat Proposal Biaya.
TPA Tgk. Meurah merupakan bentuk pendidikan anak usia dini yang berbasis Islami. Lama pendidikan TPA Tgk. Meurah adalah 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun sesuai dengan usia anak. Program kegiatan TPA Tgk. Meurah yang digunakan berpedoman pada kurikulum yang berlaku atau sesuai dengan kebutuhan.
TPA Tgk. Meurah menekankan pembentukan perilaku dan pengembangan kemampuan dasar yang disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan dan kondisi masyarakat. Prinsip pembelajaran TPA adalah bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.

Untuk dapat terlaksananya semua itu, dibutuhkan:
a. Sarana dan prasarana.
antara lain : tempat, ruang belajar, ruang penunjang, ruang kantor, perpustakaan, Gudang,tempat dan alat bermain, kursi dan meja belajar,almari, buku perpustakaan, komputer dan lain- lain.
b. Ketenagaan,
antara lain : ustad atau ustadzah, pengurus, dan lain- lain.
c. Administrasi dan Manajemen TPA.
d. Peran serta orang tua dan masyarakat.
Dalam mewujudkan kebutuhan tersebut, maka diperlukan biaya yang dapat menopang kegiatan di atas. Yang diharapkan bersumber dari:
a. Iuran tetap bulanan santri.
b. Sumbangan dari DKM.
c. Sumbangan dari perusahaan.
d. Sumbangan dari masyarakat.
7. Mengajukan proposal.
Proposal diajukan kepada pihak yang bersangkutan, baik untuk ijin ataupun untuk meminta bantuan atau donatur.
D. Kendala mengembangkan TPA dan solusi untuk mengatasinya.
1. Kurangnya minat pada masyarakat untuk mengikutsertakan anaknya belajar di TPA.
Tidak jarang orang tua yang enggan mengikutsertakan anaknya untuk mengikuti pendidikan di TPA karena para orang tua beranggapan kalau pendidikan di TPA hanya mengganggu sekolah atau belajar anak- anaknya saja.
Berkaitan dengan itu maka pengurus sebaiknya mensosialisasikan tentang pentingnya pendidikan berbasis agama ( TPA ) untuk menjadikan anak- anak mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia.
2. Masyarakat lebih mengutamakan pendidikan formal.
Dewasa ini yang merajai pendidikan adalah pendidikan formal, masyarakat cenderung tertarik untuk menyekolahkan anak- anaknya pada jalur formal saja dan menomorduakan jalur pendidikan non formal, padahal keduanya sama- sama penting.
Solusi untuk mengatasinya dengan cara mensosialisasikan pada masyarakat tentang pentingnya pendidikan non formal ( TPA ) pada anak, dan memberikan peranan yang signifikan bagi masyarakat, sehingga dapat menarik masyarakat untuk mengikutinya.
3. Sebagian masyarakat lebih mementingkan bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi daripada agama.
Sekarang ini banyak lembaga pendidikan non formal yang berkembangan di masyarakat, contohnya : Bimbingan belajar, Tempat kursus komputer, bahasa Inggris dan lain- lain. Masyarakat lebih memilih pendidikan non formal semacam itu dibandingakan dengan pendidikan non formal berbasis keagamaan.
Solusinya adalah menyadarkan masyarakat bahwa ilmu pengetahuan dan tekhnologi tidak ada artinya tanpa diimbangi dengan akhlak yang mulia, kita sebagai makhluk beragama tidak akan lepas dari kebutuhan spiritual.
4. Masalah dana , kepengurusan , dan administrasi TPA.
Dalam suatu lembaga tentunya dibutuhkan kepengurusan yang solid, administrasi yang baik, dan dana yang cukup agar lembaga tersebut dapat berkembang dengan baik dan mencapai tujuan yang ingin diharapkan.Berkenaan dengan ini dalam kepengurusan TPA mengalami kendala berkaitan dengan masalah di atas. Misalnya : Kekurangan dana akibat dana yang diperoleh hanya dari sukarelawan tertentu, masalah kepengurusan yang kurang solid dikarenakan kurang kompetennya para pengurus, dan kurang tertibnya administrasi.
Berkenaan dengan masalah di atas sebaiknya pemerintah setempat memberikan pelatian, training atau pendidikan pada pengurus TPA berkenaan dengan masalah kepengurusan dan administrasi. Untuk mendpatkan dana yang diperlukan dapat dengan mengajukan proposal pada berbagai pihak yang ingin memberikan sumbangan atau donatur demi berkembangnya TPA.
5. Kurangnya tenaga pengajar yang kompeten di masyarakat.
Kebanyakan tenaga pengajar dalam TPA hanya berasal dari masyarakat yang sukarela mendedikasikan dirinya, walaupun belum diketahui kompetensi yang dimilikinya.
Untuk mengatasi masalah di atas banyak hal yang dapat dilakukan misalnya mendatangkan guru pengajar yang berkompeten dalam bidang keagamaan, memberikan pelatihan dan pendidikan pada para pengajar yang sudah ada agar mereka dapat mengoptimalkan kompetensinya.